Minggu, 18 Februari 2018

Jalan-Jalan ke Waru [berburu roti canai]

Februari 18, 2018 0 Comments

Jalan-jalan ke Waru

          Setelah sekian lama gak nulis di blog, akhirnya cerita ini berhasil juga aku tulis hehe. Sebenernya pengen post cerita ini di blog biar suatu saat kalo lagi kangen masa-masa ini bisa baca ulang ceritanya. Karena ini blog pribadiku jadi kan ya terserah aku mau di isi apa :))


Okedeh ini dia cerita ku jalan-jalan ke Waru untuk berburu roti canai ...

Selasa, 09 Februari 2018
Pagi itu aku dan kiki (sahabatku dari SMA) akan pergi kerumah Didin, sahabat dari SMA ku juga. Rumah Didin ini berbeda kecamatan dengan tempat kita tinggal, namun masih di satu kabupaten Pamekasan. Rumahku dan Kiki di Kecamatan/Kota Pamekasan sedangkan rumah Didin di Kecamatan Waru. Aku dan Kiki sepakat untuk bertemu di tempat biasa menunggu angkutan umum pukul 07.30, tapi karena ada sedikit drama di pagi hari seperti adekku yang masih kecil gamau sekolah kalo gak aku yang nganter atau dia gamau sekolah tapi maunya ikut jalan-jalan, hffttt. Akhirnya aku sampai di lokasi janjian sekitar pukul 07.50, kiki sudah sampai duluan dan sudah nelpon-nelpon karena aku belum sampe juga waktu itu hehe maafin kay.
Ini pengalaman pertama kami ke Waru naik angkutan umum. Dulu waktu SMA kita pernah ke rumah Didin, tapi diantar oleh supir keluarga kiki. Aku kira angkutan umum yang ke arah Waru ini ada yang jenis busmini, tapi waktu kita nunggu disana gak ada busmini yang ke arah Waru, semuanya ke arah kota Sumenep atau Sampang. Selang berapa menit ada kondektur yang menanyai kita “mau kemana mbk ?”, “ke Waru, Pak.” Trus kebetulan ada angkutan umum (jenis L300 gitu mobilnya) lewat, trus si kondektur tadi bilang “ini mbk yang jurusan ke Waru”, dan aku dengan polosnya menjawab “enggak pak kita mau naik yang busmini” dan si kondektur tadi langsung menjawab “Lah gak ada busmini jurusan Waru, busmini itu jurusan Sumenep atau Sampang. Nunggu sampe besok juga gak bakal ada”. Dan seketika aku dan kiki tercengang, haha aku kalo inget itu malu parah sih kay. Jadi angkutan umum jenis L300 itu lebih gimana ya, sedikit lebih memprihatinkan lah dibanding busmini. Kalau aku sih gak masalah naik apa juga yang penting sampe, tapi masalahnya aku bawa kiki, jenis anak orang yang naik busmini aja baru pas dia kelas 3 SMA, itupun gegara kita setiap minggu ikut bimbingan belajar yang letaknya di kabupaten sebelah. Akhirnya karena gak punya pilihan lain naiklah kita ke L300 itu. Untungnya di mobil itu masih sepi dan di kursi depan juga masih kosong, jadi kita memilih untuk duduk di depan samping sopir.
Awalnya perjalanan kita dengan L300 ini lancar, tapi ternyata sampai di pasar (pasar mana ya aku lupa namanya hehe pokoknya pasar ke jalan yang arah Pakong) sopirnya berhenti dan masih menunggu penumpang. Setelah beberapa menit yang cukup lama, akhirnya angkutan L300 inipun penuh, bahkan ada satu ibu-ibu yang ikut duduk di kursi depan, yang membuat aku dan kiki duduk sempit-sempitan :’). Gak cukup sampe situ, angkutan L300 ini berhenti lagi di Pasar Pakong. Ini sudah setengah perjalanan menuju Waru dan ternyata kita di oper, sip mantab. Kita di oper ke angkutan L300 lain karena penumpang yang menuju waru cuma kita aja, ya akhirnya terpaksalah kita pindah ke L300 lainnya. Akhirnya setelah perjalanan ke Waru yang berkelok-kelok dan sedikit membuat pusing, sekitar pukul 10.00 lebih kita sampai di rumah Didin. Membutuhkan waktu dua jam lebih men, padahal kalau naik motor atau mobil sendiri ke Waru hanya membutuhkan sekitar 45 menit. Gakpapalah, pengalaman.
Jadi sebenarnya tujuan utama ke Waru ini karena aku pengnen banget roti Canai, dan roti canai ini adanya cuma di Waru. Sesampainya di Waru aku dan Kiki diajak Didin ke bukit-bukit gitu lah. Intinya cari spot foto-foto hehe. Tapi karena kita kesananya siang, dan itu panas banget akhirnya acara foto-foto cuma sebentar, sebentar tapi udah cukup membuat kulit terbakar. Jadi buat yang tanya kenapa aku semakin eksotis pas balik Semarang, ini salah satu jawabannya guys.



(dari kiri) Aku, Kiki, Didin

Selesai dari bukit-bukit kita rujaan dirumah Didin sambil mengenang masa SMA, cerita-cerita gimana di tempat rantau masing-masing dan entahlah kebanyakan ngobrol gak jelasnya. Siangnya kita diajak Didin buat makan di warung makan Pattaya. Pattaya itu kalo gak salah nama kota di Thailand, entah warung makan ini khas Thailand atau bukan. warungnya sih biasa aja, gak begitu luas atau sempit juga. Waktu itu kita bertiga sama-sama pesen nasi goreng pattaya, karena memang menu itu yang khas dari warung ini. Harga-harga makanan disana sih worth it lah, masih sesuai sama kantong mahasiswa. Rasa nasi gorengnya ya lumayan lah gak yang waw banget tapi sesuai sama harga. Es jeruknya yang aku suka, harganya cuma empat ribu tapi enak dan gelasnya gede. worth it deh yang mau jalan-jalan ke Waru kalo mau mampir ke warung itu.






   



 



Setelah dari warung makan pattaya kita langsung ke tempat roti canai. Yeee ini dia tujuan utama ke Waru hehe. Roti canai ini pemiliknya orang asli luar negeri, entah Malaysia atau Bangladesh aku lupa, dan yang buat roti canainya itu cuma si bapak itu, makanya meskipun roti canai ini banyak pelanggannya bahkan dari kecamatan kota tapi si bapak tidak bisa membuka cabang, karena dia tidak bisa membelah diri (?) okedeh ini gak lucu. Roti canai yang khas itu yang original, jadi dia ada kuah karenya gitu. Tapi selain yang original juga udah banyak variannya rasanya, dan yang paling paling aku suka yang rasa pisang coklat, heem yummiii. Tapi kata Kiki yang baru pertama nyobain roti canai ini rasanya biasa aja, kayak roti maryam katanya :(  mungkin gegara dia udah lelah naik L300 jadi roti canainya jadi B aja wkwk. Nyampe rumah roti canainya udah langsung diburu habis sama orang rumah jadinya gak sempet di foto deh huhu




kurang lebih kayak gitu lah roti canai yang original, ada kuah karenya gitu :)


Itulah cerita perjalanan kita berwisata kuliner di Waru, mungkin kebanyakan randomnya, tapi semoga bermanfaat :D 


Minggu, 22 Oktober 2017

Happy 20th Birthday

Oktober 22, 2017 0 Comments
21 Oktober 2017



Waktu berjalan sangat cepat. Rasanya baru kemarin pulang sekolah TK trus nyari ibu di dalam rumah yang ternyata ngumpet di belakang pintu trus di kagetin. Rasanya baru kemarin pulang sekolah SD trus buku sekolahnya diperiksa sama ibu di kursi teras rumah. Rasanya baru kemarin seneng kalo hujan karena itu artinya berangkat sekolah SMP dianter sama ibu dan gak perlu ngayuh sepeda ontel selama 20 menit. Ah rasanya baru kemarin aku jadi putri kecil ibu yang nakal dan selalu ngerepotin.
Ibu putri kecil mu hari ini sudah berumur 20 tahun. Terimakasih banyak bu sudah mau mempertaruhkan  nyawa demi melahirkanku 20 tahun yang lalu. Kau rela mempertaruhkan nyawa untuk seseorang yang bahkan belum kau ketahui akan tampak seperti apa rupanya, akan bagaimana sikapnya padamu nanti, tapi kau rela bu kau rela mempertaruhkan nyawamu untukku. Ibu maafkan aku jika selama 20 tahun hidup di dunia ini belum bisa membahagiakanmu, dan terlalu sering merepotkan mu. Terimakasih atas rasa sabar mu yang tak terbatas menghadapi segala tingkah ku. Terimakasih ibu.
Ah sudah umur 20 tahun ya, sudah kepala dua, tapi saat aku melihat ke cermin rasanya sama saja, tetap Diana yang masih belasan tahun. Mungkin bedanya mengulang tahun kelahiran di umur yang semakin bertambah ini semakin biasa saja, tidak ada spesialnya seperti tahun-tahun lalu. Dulu setiap malam tanggal 20 Oktober aku akan begadang menunggu pergantian hari dan selalu menebak-menebak siapa yang akan memberi ucapan happy birthday pertama kali. Namun semakin bertambah umur rasanya sudah tidak penting lagi siapa yang mengucapkan pertama maupun terakhir. Kemarin saja aku tidur seperti biasanya, tidak mau lagi begadang menunggu siapa yang mengucapkan tepat tengah malam. Apa pentingnya ? ya itulah yang akan kalian rasakan di umur yang semakin bertambah. Malah rasanya semakin sedikit yang ingat hari ulang tahun kita semakin baik, karena sedikit pula yang tahu jika umur kita sudah bertambah semakin tidak muda lagi.
Tapi ternyata di umur 20 tahun ini masih ada yang mengucapkan happy birtday tepat pukul 00.01. Dia Acu, sahabatku dari SD. Ah Acu terimakasih masih ingat dan selalu ingat hari ulang tahunku, terimakasih sudah ngucapin tepat tengah malem padahal waktu ulang tahun mu tanggal 22 September kemarin aku telat ngucapinnya karena hectic banget di hari itu sampe gak sempet ngucapin huhu.
Thanks Acu :))

Imas, orang kedua yang ngucapin selamat di hari ini. Imas sahabat ku dari SMA. Terimkasih cong pagi-pagi udah ngirim voice note yang bikin aku terharu tapi ngakak karena foto yang kamu edit itu haha. Terimakasih doanya cong, kangen kamu.

Aku bahkan lupa ini foto dimana dan kapan cong :D

Orang ketiga yang ngucapin, Mifi. Mifi ini sahabat dari SD juga. Makasih ya Fay selalu inget ulang tahunku padahal waktu tanggal 16 Juli kemarin kayaknya aku lupa gak ngucapin happy birthday buat kamu :( So sorry Fay.
Big thanks buat Andoy si andul dan temen-temen kosan yang sudah ngasih surprise, terimakasih teman-teman. Terimakasih kue nya pas sekali aku lagi lapar kemarin haha. Pokoknya makasih banyak ya Ndoy, Love youuuu
Thank you Ndoy ({})


wkwk 


Terimakasih buat semua temen-temen yang sudah ngucapin yang gak bisa aku sebut satu-satu namanya. Terimakasih banyak. Semoga doa-doa kalian di ijabah Allah dan balik ke kalian juga. Sekali lagi terimakasih.
Last but not least, terimakasih ya Allah telah memberiku kesempatan untuk masih bisa hidup di bumi-Mu hingga umur 20 tahun ini. Hamba tahu ya Allah engkau masih memberikan kesempatan hidup ini karena dosa-dosa ku masih begitu banyak dan kau berikan kesempatan untuk ku bertaubat. Terimakasih ya Allah, semoga aku tidak menyia-nyiakan waktu yang telah engkau berikan. Karena sejatinya semakin bertambah umur kita semakin berkurang waktu kita di dunia ini. Ampuni hamba mu ini ya Rabb yang masih sering lalai terhadap perintah mu, ampuni dosa-dosa hamba, dosa kedua orang tua hamba, dosa keluarga hamba, dan dosa teman-teman hamba. Semoga kelak kami dapat bersama-sama masuk ke dalam surga-Mu ya Rabb, Aamiin.


Kamis, 19 Oktober 2017

Senja Tak Lagi Sama

Oktober 19, 2017 2 Comments
5 September 2017


Berat mengubah sikap, sebab demi Tuhan rasa ini masih sama
Memandang wajahmu aku tak sudi
Mengertilah, telah semampunya aku tak ingin melihatmu lagi
Sementara waktu telah menyeretku jauh dari ragamu
Ada rasa sedih saat melihatmu bahagia
Bukan karena aku tidak ingin kamu bahagia
Melainkan karena bukan aku yang membahagiakanmu 
Itu menyakitkan, seperti pukulan yang sebenarnya ingin buatku tersadar

Mungkin ini waktu untuk aku terpuruk
Supaya aku dapat melihat Tuhan memakai kenangan ini untuk buatku dipenuhi kesiapan
Sehingga doa dapat melahirkan semangat
Dan kemudian buatku bangkit


Jika kau merasa setia dan ia meninggalkamu
Kau jangan dengan gagah berteriak ia tak setia
Setia adalah mencoba, bukan keadaan yang sesaat
Aku mencoba setia
Aku belajar tentang kesetiaan
Orang yang setia adalah orang yang menjaga
Orang yang memikirkan tentang kesetiaan
Setiap waktu
Aku meminta ampun kepada Tuhan
Sebab aku pernah berharap kalau suatu saat
Ketika angin menghempasku hilang dari daya ingatmu
Aku ingin tak pernah lagi menginjak bumi
Sebab hidup  jadi terasa bagaikan dinding yang dingin

Aku harus menjadi paku
Sebab kamu bagai lukisan dan cinta itu palunya
Memukul aku, memukul aku dan memukul aku sampai aku benar-benar menancap kuat.
Pada akhirnya, semoga, tidak kamu lagi yang aku lihat 
Sebagai satu-satunya cahaya di dalam pejamku sebelum pulas
Semoga tidak kamu lagi.....


***


15 Agustus 2017


Sore ini langit senja begitu menawan, semburat jingganya membuat semua benda disekitar berubah menjadi kuning keemasan. Aku selalu suka melihat warna jingga di ufuk barat, dan yang paling favorite yaitu senja seperti saat ini. Menikmati senja di pinggir pantai bersama dengan dia, “Abang”.
Kupalingkan kepalaku ke samping untuk melihat sosoknya, sosok yang selalu aku kagumi. Senyumnya terukir menyipitkan mata menyaksikan matahari kembali keperaduan. Bukan, senyum itu tidak hanya terukir saat melihat matahari tenggelam, senyum itu selalu terukir diwajahnya. Saat berpapasan dengan orang-orang, dengan teman-teman, dengan adik tingkat, dengan penjaga gedung, bahkan dengan orang yang tak dikenalnya pun dia tidak ragu untuk memberikan senyumannya. Senyuman yang selalu bisa menenangkan orang lain, termasuk aku. Sempat kulontarkan tanya “Bang, abang gak capek ya senyum terus ?” tanyaku iseng saat itu
Dan dia hanya semakin mengembangkan senyumnya tanpa memalingkan wajahnya dari keindahan matahari yang akan tenggelam. Sesekali dia mengabadikan momen senja itu dalam kamera yang menggantung di lehernya.

Ih jawablah bang, gak capek ya senyum terus ? Sampe kucing di jalan aja di senyumin juga” candaku.

“Kenapa harus capek dek ? Senyum itu kan sedekah. Gak usah aku jelasin kamu udah tau kan ? lagian, bukan bahagia yang membuat kita tersenyum dek, tapi karena tersenyumlah maka kita akan bahagia” Jawabnya mantap.

Aku hanya mengangguk-anggukan kepalaku. Meskipun sebenarnya belum puas dengan jawabannya.
Sama seperti matahari, setiap orang yang ada di bumi ini hanya untuk sementara dek, untuk nanti kemudian dia akan pergi jika tugasnya telah usai.” Lanjutnya. Aku tetap diam menunggu lanjutan kalimatnya.

“Tujuan semua orang hidup itu untuk mati, Dek. Di bumi ini tugas kita hanya berbuat baik kepada semua orang untuk bekal kita nanti.”

Ih kok abang malah ngomongin mati sih” jawabku

“Kan tadi kamu tanya apa alasan abang selalu senyum sama setiap orang, ya itu jawabannya. Abang ingin menebarkan kebaikan, abang ingin menjadi orang yang akan di kenang kebaikannya kalau abang sudah pergi nanti”

“iya iya adek paham, udah ah jangan ngomongin mati” ucapku yang hanya ditanggapi dengan kekehan kecil dari bibirnya.


***


29 Agustus 2017


Hari ini langit Surabaya cerah. Berbanding terbalik dengan ku yang hari ini rasanya malas sekali untuk berangkat kuliah. Senin sore ia masih menyempatkan waktu untuk mengunjungiku, berpamitan pergi ke Malang dan menitipkan toga wisuda. Aku ingin sekali ikut tapi Abang melarang karena aku harus kuliah, sedangkan dirinya sudah libur, tinggal menunggu waktu wisuda tanggal sepuluh September nanti. Ah rasanya aku ingin cepat wisuda saja. Ku tarik nafas dan ku mantapkan langkah untuk melawan rasa malas ini.
Siang hari setelah jam kuliah selesai aku memilih untuk sholat di masjid kampus yang rindang dan sejuk. Seusai sholat aku masih duduk-duduk di teras masjid untuk menghilangkan penat. Siang ini awan mendung, sepertinya akan turun hujan. Akhir-akhir ini Surabaya beberapa kali sudah diguyur hujan. Entahlah bulan Agustus ini sebenarnya musim hujan atau musim panas, cuaca saat ini sudah sulit untuk diprediksi. Ku bergegas pulang, sesampainya di kosan ku buka smartphone untuk mengecek pesan-pesan yang masuk. Seringkali pesan-pesan hanya dari group ataupun official account, namun kali ini tidak, banyak panggilan tak terjawab dari temanku yang berada di Malang dan satu pesan dari sepupu Abang yang menanyakan keberadaanku. Tiba-tiba ada pesan masuk lagi, whatsapp dari teman SMA ku yang saat ini kuliah di Malang.
“Neng, Yudi kecelakaan. Tenggelem di air terjun.”
Membaca isi pesan tersebut seketika jantungku langsung berdegub sangat kencang. Entahlah pikiran-pikiran buruk langsung singgah di otakku. Shock? Tidak. Aku hanya berfikir “Permainan apa lagi bang yang kamu mainkan ?”


***


5 September 2017


Hari keenam. Ya hari ini hari keenam kepergiannya. Kepergian sosok Abang yang begitu aku kagumi. Jangan tanya bagaimana perasaanku waktu tau dia sudah tidak bernafas lagi, hancur, satu kata itulah yang bisa menggambarkannya. Dihari keenam ini, pelan-pelan aku sudah mulai mengikhlaskannya. Bukan hanya aku yang kehilangan sosoknya, semua orang yang mengenalnya merasa kehilangan. Hanya merasa kehilangan tapi tidak untuk merasa ditinggalkan.
Aku teringat percakapan saat menikmati senja terakhir dengannya kala itu. Dan ya dia berhasil, berhasil menggapai tujuan hidupnya, dikenang banyak orang saat dia telah tiada. Banyak, banyak sekali orang-orang yang merasa kehilangan sosok Abang. Sosok yang selalu ringan senyum serta ringan tangan membantu semua orang.  Aku benar-benar rindu akan senyumannya, senyum yang selalu bisa membuatku merasa tentram. “Semangat aaa” itulah pesan terakhir darinya saat aku mengeluhkan malas berangkat kuliah kala itu. Hari ini aku sadar bahwa isi pesan itu bukan hanya semangat untuk kuliah, tetapi semangat untuk terus melanjutkan hidup ini meskipun tanpa sosoknya, tanpa senyumnya, dan tanpa nasihat-nasihat darinya. Okay im try, Bang.


***


Langit senja kini memang tak pernah lagi sama. Tapi satu hal penting yang saat ini sudah aku pahami betul, bahwa hidup ini bukan hanya tentang diri kita sendiri. Bukan tentang kesuksesan-kesuksesan dan rencana-rencana hebat yang ingin kita raih, karena semua itu tak akan pernah ada habisnya. Hidup ini tentang bagaimana kita bermanfaat bagi orang-orang di sekitar kita, bagaimana kita akan dikenang oleh orang-orang jika kelak kita telah pergi, dan yang paling penting bagaimana Allah ridha akan segala hal yang kita lakukan di bumi-Nya. Bang, Langit senja kini memang tak lagi sama, tapi izinkan aku untuk tetap mengenangmu di sudut hati ini. Bang, langit senja kini memang tak lagi sama, tapi aku akan mencoba untuk bisa menjadi sepertimu, menjadi orang yang bermanfaat bagi sekitarnya. Bang, langit senja kini memang tak lagi sama, tapi senja tetap lah senja yang tetap indah dan menenangkan, dan aku akan tetap menyukai senja walau kini ia tak lagi sama. 


***

Rinduku sudah pada tahap keterlaluan
Nada yang ku dengar saat ini
Adalah nada indah yang bersemayan di atas penderitaan yang indah.
Penderitaan yang indah ?
Seperti apa ?
Dia..
Seperti rindu
Aku menyerah
Lantas apa cara untuk tidak merindu selain menemuimu ?
Jika tidak ada,
Biarkanlah aku menderita dalam keindahan
Teruntukmu yang ku ingini tanpa mengingini aku kembali
Dalam hela nafasku
Ada rindu di dalamnya yang tak akan pernah berhenti
Sebelum aku mati
Sumpahku satu
Akan ku buat rinduku, menjadi rindumu
*Panji Ramdana


***





Follow Us @elhidadiana